Afnan Hadikusumo: UNBK Perlu Perbaikan

Afnan Hadikusumo mengakui pelaksanaan Computer Based Test (CBT) atau lebih dikenal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) masih banyak kekurangan. Namun, sejauh ini pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya maksimal mengatasi segala aduan diantaranya terkait sinkronisasi komputer, aliran listrik padam, dan dugaan pungutan liar.

“Secara umum bagus cuman disisi lain yang menjadi kendala itu ketika penyelesaiaan soal soal berbasis komputerisasi, yang kedua soal-soal tentang bahasa Inggris terutama, listening” ujar Afnan.

Ditemui disela-sela kunjungan kerja membahas UU Kebidanan komite III DPD RI ke Pemda DIY senator asal DIY menuturkan bahwa UNBK khususnya ujian bahasa Inggris berbasis listening memang memerlukan perangkat lain. Selain itu, beberapa sekolah dalam penyelanggaraannya memerlukan disel, “Beberapa sekolah memang menyewa disel untuk mengantisipasi kendala listrik padam ketika ujian sedang berlangsung. Dari tahun ke tahun yang kendalanya itu terus”, pungkasnya.

“UNBK itu permasalahan nasional lingkupnya tidak hanya DIY saja, seperti listrik mati ada juga aduan aplikasi bermasalah, kami akan bertemu dengan kemeterian dan menentukan langkah yang tepat”, lanjut Afnan Hadikusumo

Berdasarkan sumber website resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan semenjak dilaksanakan pertama kali pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) pelaksanaan UNBK membuahkan hasil yang menggembirakan. Secara bertahap tiap tahun keikutsertaan sekolah dan siswa semakin meningkat hingga pada tahun 2017 jumlah sekolah yang mengikuti ujian berbasis online tersebut mencapai 30.577 sekolah. UNBK diyakini mampu mendorong siswa untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). (ra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *